BUMI MANUSIA

Buku Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer. Sumber : Google
 
“Lima syarat yang harus ada pada satria jawa, Wisma, Wanita, Turangga, Kulila, dan Curiga”
“Kau terpelajar, Minke, seorang terpelajar yang harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah arti terpelajar itu”.


Seorang terpelajar yang harus kalah dengan ketidakadilan, dengan hukum yang memberatkan keluarganya karena dia pribumi dan hukum yang di pakai hukum Eropa pada zaman itu, dan ia terus melawan dengan ketidakadilannya, melawan, melawan dan melawan. Ialah Minke seorang kaum terpelajar pribumi yang menjadi aktor cerita utama dalam buku ini.
Minke belajar dan berguru dari siapapun, termasuk sahabatnya sendiri yang pincang, Jean Marawwis, dari Jean, Minke belajar tentang keadilan, bahwa manusia sudah sepatutnya berlaku adil dalam pikiran apalagi perbuatan. Sebagai seorang terpelajar, ia  belajar melawan ketakutannya sendiri karena “Ketakutan itu sendiri adalah kebodohan awal yang akan membodohkan semua”.
Di mulai dengan setting latar tahun 1880-an, Minke memulai dengan catatan kecilnya yang ia peroleh dari pengetahuan Eropanya, “Dan justru pengalaman hidup sebagai orang Jawa berilmu pengetahuan Eropa yang mendorong aku suka mencatat – catat . Suatu kali akan berguna, seperti sekarang ini”.
Minke yang terpelajar itu sering bertemu dengan dengan pelajar – pelajar Eropa lainnya, salah satu nya dua bersaudara Sarah dan Miriam putra dari Asisten Residen Herbert De La Croix, walaupun dalam perjumpaian pertama dengan mereka Minke di anggap remeh dengan status pribumi yang terpelajar, lama kelamaan mereka menjadi sahabat terbaik dalam bertukar pikiran “Sudah pada galibnya ada pertukaraan pikiran antara kaum terpelajar”, sebelum mereka pulang tanah kelahirannya Belanda, Sarah dan Miriam sempat berpesan kepada Minke “Kan sudah sepatutnya ada pertukaraan pikiranantara muda – mudi terpelajar? Siapa tahu, kelak bisa jadi dasar kehidupan yang lebih baik? Apalagi kalau kalian kelak jadi orang yang penting?”.
Persahabat dengan Sarah dan Miriam tidak cukup hanya di tanah air, walaupun mereka pulang ke Netherland, komunikasi dan pertukaran pemikiran masih berlanjut, dalam sepucuk surat yang dikirim Mirian de la Croix, Miriam menulis :
“Tahu kalian apa yang di butuhkan bangsa cacing ini? Seorang pemimpin yang mampu mengangkat derajat mereka kembali”.
Dan ia mengutip dari perkataan Papah nya yang mengatakan bahwa :
“Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaannya atas ILMU dan PENGETAHUAN. Semua, pribadi dan bangsa – bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada berilmu dan berpengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan”.

Dengan title kaum terpelajar nya itu, ia banyak mempunyai teman Eropa, karena ia menulis  “Manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa SAHABAT hidup akan terlalu sunyi”. dan di kenalkan dengan seorang nyai muda yang kelak menjadi mertuanya, yaitu Sanikem “Nyai Ontosoroh”. Disini mulai terjadi alur cerita yang menarik, yaitu bertemunya Minke dengan seorang prempuan yang cantik dengan rumusan cantik yang ia sebutkan letak dan dan bentuk tulang yang tepat, diikat oleh lapisan daging yang tepat pula, Annabelies namanya putri dari nyai Ontosoroh yang menjadi istri Minke.
Yang menjadi menarik dalam buku ini ialah seorang Nyai yang telah di sebutkan tadi, Nyai Ontosoroh. Seorang gundik yang mempunyai perusahaan besar(Boerderij Buitenzorg) yang di kelolanya sendiri tanpa mempunyai gelar kaum terpelajar, tanpa berpengatahuan Eropa dan hanya satu yang menjadi prinsip nya, belajar. Ia menjadi simbol perlawanan kaum prempuan kelak.
Seorang Nyai yang katakanlah pada zaman itu kata Nyai diartikan sebagai wanita simpanan,
Ia belajar bagaimana membaca dan menulis, berhitung dan mengelola perusahaanya sendiri, semua itu di ajari dari suami yang merebutnya dari keluarga nya, Tuan Mellema. Inilah yang harus menjadi panutan untuk semua prempuan pada zaman sekarang yang bisa mandiri dengan melepaskan streotipe bahwa prempuan itu lemah dan tak bisa berbuat apa – apa. Nyai Ontosoroh melepaskan semua stereotipe bahkan di turunkan ke anak nya, anaknya pun di bebaskan untuk memilih dan hanya Nyai yang akan mempertimbangkan apakah pilihannya baik atau buruk, itulah hakikat orang tua.

“Dan setiap yang buruk tak pernah menarik,. Prempuan yang tak dapat merawat kecantikannya sendiri, kalau aku lelaki, akan kukatakan pada teman – temanku: jangan kawini perempuan semacam itu, dia tak bisa apa – apa, merawat kulitnya sendiripun tak kuasa”.
“Tak mungkin kau seperti wanita Belanda, juga tidak perlu, Kau cukup seperti sekarang, biar begitu kau lebih cerdas dan lebih baik dari pada mereka semua. Semua”. Inilah salah satu wejangan yang diberikan Nyai kepada anaknya, Annabelies.

Tak hanya Aannlies yang kagum akan kepintaraan dan pengetahuan Nyai Ontosoroh, Minke pun terpesona dengan kepintaran itu, yang bukan hanya mertua, tapi Minke anggap sebagai guru terbaik dalam hidupnya, dia diberi wejangan oleh Nyai Ontosoroh untuk terus belajar dan tak takut apapun salah satu nasihat yang akan selalu di ingat oleh Minke :
“Tahu apa yang mengagumkan dari tentangnya? Dia berani menyatakan pendapat! Sekalipun belum tentu benar. Dia tak takut pada kekeliruan. Tabah, berani belajar dari kesalahan sendiri” (Hal.347)
Cerita berlanjut dengan kedatangan ir.Maurist Mellema, anak dari istri pertama dari Herman Mellema suami Nyai Ontosoroh, yang merebut perusahaan dan anaknya sendiri, Annabelies. Dengan hukum Eropa ia berhak melakukan segala apapun yang terhadap pribumi, Annalies di bawa dan perusahaan akan di pegang oleh ir.Melemma, dalam hukum Eropa pada zaman itu, yang menjadi pewaris pertama dari harta bapaknya adalah istri yang sah, dan Nyai Ontosoroh hanyalah gundik, wanita simpanan, dan bahkan naasnya lagi pribumi.
Annlies dibawa oleh ir.Maurist Melemma ke Belanda, karena ir. Maurist Mellema tahu bahwa bilamana Annalies hidup, sedikit warisannya akan diberikan kepada Annalies, walaupun Annalies mempunyai kakak, tapi Robert tidak diketahui oleh keluarganya dimana berada, hanya ada surat itu pun setelah dia keliling dunia dengan apa yang di cita – citakannya dan diprediksi oleh dokter hanya hidup beberapa hari lagi karena penyakit yang dideritanya.

Hari – hari terakhir.
Annalies di bawa ke Belanda dengan paksa, Nyai Ontosoroh hanya bisa menangis begitu juga Minke, orang yang di bentuk untuk mandiri dan mempunyai rasa berjuang, orang yang di bentuk dari jerih payahnya Nyai harus di ambil begitu paksa karena ada hukum yang biadab terhadap dirinya.
“Kita kalah ma,” bisik Minke
“Kita telah melawannya , Nak,Nyo, sebaik – baiknya , sehormat – hormatnya.”

Di tulis oleh Abdul Mujib Maulana resensi buku BUMI MANUSIA karya Pramodya Ananta Toer

Komentar