Kartini dalam Konde dan Kebaya

Kartini dalam bingkai Konde dan Kebaya. Sumber : Google
Selamat hari Kartini!
Ya, kalimat itulah yang paling banyak diucapkan pada tanggal 21 April di setiap tahun. Sejak penetapan Ibu Kartini sebagai pahlawan nasional pada tahun 1969 oleh Ir.Soekarno, artinya kita dan ibu atau nenek kita sudah merayakan hari Kartini selama 49 tahun atau hampir setengah abad! Bagaikan magic, hampir semua perempuan Indonesia seakan kompak mengadakan Fashion Show dadakan. Tak kenal usia dari murid TK, SD sampai karyawati yang ada di instansi perusahaan atau perempuan yang ada di lembaga pemerintahan memakai kebaya terbaiknya, lengkap dengan makeup dan konde atau sanggul penghias kepala.
Tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari Kartini sesuai dengan hari lahir Ibu Kartini yaitu 21 April 1879. Beliau bisa disebut sebagai pejuang perempuan dari kalangan menengah keatas saat itu karena merupakan putri dari Sosrodiningrat, yaitu bupati Jepara. Ibu dari Kartini bernama Ngasirah, seorang putri dari kiai Haji Mardiono, seorang guru agama di Teluk Awur Jepara.

Seperti yang kita tahu, hampir tidak ada satu hal pun di dunia yang tidak tercampur dengan politik, termasuk dalam pernikahan orang tua Kartini. Setelah menikahi Ngasirah pada tahun 1972, di usia 3 tahun pernikahannya Sosrodiningrat menikahi anak dari bupati Jepara sebelumnya yaitu R.A.A Tjitrowikrono yang bernama RA Moerjam. Meskipun sebagai istri kedua, namun RA Moerjam mendapat status yang lebih tinggi dan terhormat dari Ngasirah yaitu sebagai garwa padmi. Saat itu, Sosrodiningrat menikahi istri keduanya sebagai pemenuhan syarat dari hindia Belanda karena ia ingin menjadi bupati Jepara. Hal itulah ketidakadilan yang pertama dirasakan oleh Kartini muda, yaitu status sosial 'rendah' yang diberikan pada ibunya dan hal tersebut menjadi salah satu hal yang memicu ketidaksepakatan Kartini pada poligami.

Seperti tokoh dan pahlawan nasional lain, ibu Kartini merupakan perempuan yang senang membaca buku. Saat itu ia senang membaca buku ilmu pengetahuan, majalah kebudayaan yang bermuatan berat dan majalah wanita Belanda. Keakrabannya dengan orang-orang Belanda digunakannya untuk mencari peluang mendapatkan kebebasan dalam mendapat ilmu pengetahuan seperri orang Eropa. Semua buku dan majalah tersebut ia dapatkan dari sahabatnya, Rosa Aberdanon yang selalu memberi suport dari segi pengetahuan. Setelah itu, ibu Kartini pun sedemikian kagum pada kemajuan berpikir orang Eropa.

Sekarang ini, banyak sudah pengikisan makna dalam merayakan hari Kartini. Perempuan lebih suka berkebaya dan berkonde ria, mengadakan festival dan mengagungkan kata 'emansipasi' sebagai cita-cita Kartini. Pada hari Kartini, perempuan yang bekerja di kantor berkebaya namun masih duduk di belakang komputer selama 8 jam dan merasa itu adalah pencapaian cita-cita Kartini. Jasadnya bebas, bergumul dengan ruang publik namun sebenarnya otaknya terkungkung dengan budaya nilai-nilai perempuan yang egosentris dan pada hari Kartini ini yang sejatinya ia pikirkan adalah konde dan kebaya.

Dianggap sebagai baju nasional perempuan, kebaya sebenarnya sudah mengalami banyak perubahan. Sejarah menyebutkan, kebaya awalnya semacam tunik yang dipakai perempuan Cina pada masa dinasti Ming yaitu baju panjang yang menutupi leher sampai ke lutut. Baju itu dirasa cocok dengan perwmpuan Indonesia yang saat itu memakai kemben dan samping tanpa atasan apapun sehingga memperlihatkan dada. Berkembangnya zaman, kebaya menjadi semakin pendek dan menggambarkan status sosial perempuan. Perempuan kelas menengah keatas dan perempuan Eropa akan mengenakan kebaya berbahan beludru, sutra atau bahan yang lembut sedangkan perempuan jelata memakai kebaya dengan bahan katun.

Begitu pula dengan konde sebagai pelengkap kebaya, banyak perempuan yang merasa bangga dengan mengenakan konde saat hari Kartini tiba, padahal menurut filosofinya, seperti halnya posisi konde yang ada di belakang kepala, seorang perempuan wajib menyembunyikan segala apapun aib dan kekurangan pasangannya dari orang lain. Pada zaman sekarang ini jika setiap perempuan 'mengamalkan' filosofi tersebut, tentu itu sudah mencederai cita-cita Kartini yang menginginkan perempuan bebas dalam berfikir dan leluasa mengungkapkan apa yang ia tidak setujui.

Seperti halnya kebaya, di keraton konde juga menggambarkan status sosial antara putri dan abdi-abdinya. Konon, hiasan yang ada di konde menggambarkan kelas sosial apa yang ditempati oleh si pemakai konde. Padahal status sosial adalah salah satu faktor utama dari adanya dosa pendzoliman media (iklan, layar kaca) dan kapitalisme pada perempuan melalui isapan jempol mengenai mitos-mitos ketenaran dan kecantikan.

Seperti contoh pada layar kaca, mitos kecantikan membuat kualitas seorang perempuan menjadi hal yang tidak begitu penting dalam mendapatkan peran. Begitu juga saat perempuan menjadi sales marketing dari suatu produk, kemampuan menawarkan produk dan pengetahuannya pada produk yang ia tawarkan adalah hal kesekian yang diperhatikan oleh perusahaan maupun calon konsumen. Pada akhirnya, perempuan tidak punya otonomi pada tubuhnya sendiri. Semua serba terikat pada pasar dan kelas sosial yang ingin ia masuki. Belum lagi image yang sering ditampilkan dalam sinetron-sinetron dan iklan di Indonesia sekarang. Sehingga perempuan tahu nilai baik, buruk, sholehah, murahan, jahat, cantik dan jelek bukan dari buku atau nasihat orang tua, melainkan dari sinetron dan iklan apa yang ia tonton.

Jadi, masihkah kita termasuk perempuan yang me 'euforia'kan hari Kartini dengan memilih kebaya agar disebut perempuan sejati? Padahal sejatinya, hari Kartini adalah hari intelektualitas perempuan. Atau masih bertahan dengan pacar yang mengatur cara berpakaianmu bukan menuntun cara berpikirmu? Masih? Kalau begitu mungkin kita harus memohon untuk mati muda seperti Kartini. Karena menurut Soe Hok Gie "nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah berumur tua ...".

Oleh :
Ani Nur Yanti
Demisioner Rayon Psikologi

Komentar

Posting Komentar