Napoleon : Si Babi yang 'Nyikologi'


“EMPAT KAKI BAGUS, DUA KAKI JELEK”. Semboyan itu yang terus menerus diulang-ulang oleh para penghuni peternakan 'BINATANG'. Peternakan yang dulunya bernama peternakan 'MANOR' ini dipimpin oleh seorang babi yang bernama Napoleon. Ya, seorang BABI!

Sedari kecil, bagi orang islam sudah diajarkan bahwa binatang babi adalah binatang dengan derajat rendah dan mempunyai hukum najis paling berat yaitu mughaladzah. Entah dari mana asal muasalnya, namanya pun masuk nominasi 'kata-kata kasar' yang diucapkan oleh seseorang pada yang lainnya (salah satunya) untuk menggambarkan kebencian bernasib sama seperti temannya, anjing. Orang tua tidak akan segan memukul mulut anaknya saat mengucapkan kata-kata itu. Padahal apa salah si anjing dan si babi?

Lain halnya di peternakan ini, sedari awal pemberontakan yang mereka lakukan pada tuan Jones yang merupakan pemilik pertama peternakan adalah hasil dari orasi membara dari seekor babi yang terkenal visioner, cerdas dan dihormati, si babi tua Major. Major seekor propagandis yang bisa mempengaruhi teman-temannya di peternakan untuk memberontak pada tuan Jones atas 'penjajahan' yang ia lakukan. Si babi Major berpidato mengajak para binatang untuk memperjuangkan masa depan para binatang yang jauh dari penindasan dan eksploitasi. Ia berkata dengan semangat, mengajak para binatang menyadari bahwa mereka diberi makan hanya untuk  menghirup nafas saja dan akan dibunuh saat sudah tidak bisa dieksploitasi lagi. Pidato itu berbuah perjuangan dan pemberontakan para binatang. Pada akhirnya mereka berhasil mengambil alih peternakan dan menggunakan prinsip BINATANGISME.

Setelah merdeka dan melewati konflik yang begitu panjang dikalangan internal para binatang, peternakanpun akhirnya dipimpin oleh babi bernama Napoleon. Napoleon berhasil meyakinkan para binatang, ia akan membawa peternakan pada nasib yang lebih baik, dan menyingkirkan babi lain yang bernama Snowball. Namun tidak banyak orang yang mengetahui, babi Napoleon  ini ternyata menguasai betul salah satu cabang ilmu Psikologi yaitu, Modifikasi Tingkah Laku (MTL). MTL sendiri lahir dari aliran Behavioristik yang percaya bahwa tingkah laku manusia bisa dikondisikan dengan cara belajar. Konsep dasar yang dimiliki MTL adalah adanya stimulus (rangsangan) yang nantinya akan diberi penguatan. Tujuannya sangat sesuai dengan tujuan dari babi Napoleon, menggnti perilaku lama dengan perilaku yang baru. Itu membuat saya curiga, mungkin si babi gendut ini penah belajar psikologi!
Cover Buku Binatangisme Karya George Orwell yang diterjemahkan oleh H.Mahbub Djunaidi. Sumber:Google

Inilah tahapan-tahapan napoleon dalam memodifikasi tingkah laku para binatang di peternakan 'BINATANG' :

1.      Memberi stimulus para binatang
Seperti teori belajar pada umumnya, pembentukan atau pengondisian prilaku dimulai dengan pemberian stimulus agar menghasilkan respon yang diharapkan. Begitu juga babi di peternakan ini. Dimulai dengan si babi tua Major dengan cara memberi orasi berapi-api. Mereka juga diajarkan lagu perjuangan mereka yang berjudul 'BINATANG-BINATANG INGGRIS sampai akhirnya mereka diajarkan tentang paham BINATANGISME yang dirangkum dalam '7 Pedoman Utama' yang berisi larangan-larangan untuk para binatang. Papan tulisan pedoman tersebut ditempel di peternakan, namun sampai akhir cerita para binatang di peternakan tak ada satupun yang diajarkan membaca dan menulis oleh babi Napoleon. Ironis ya?
2.      Memberi Penguatan untuk Mempertahankan Perilaku
Ada beberapa cara yang dilakukan oleh napoleon untuk mempertahankan perilaku para binatang yang penurut dan bekerja keras.
Pertama, ia mengajarkan semboyan 'KAKI EMPAT BAIK, KAKI DUA BURUK' dia awal pemberontakan mereka. Semoboyan tersebut terus diulang-ulang sehingga saat mereka mulai jadi pemalas atau tidak menurut, tim domba yang sudah diajarkan sebagai tim khusus 'paduan suara' akan meneriakkannya keras-keras sehingga tergeraklah hati para binatang di peternakan sehingga menghasilkan para binatang yang bekerja keras setiap harinya. Bahkan salah satu kuda bernama Clover mempunyai prinsip 'aku akan bekerja lebih keras lagi'. Ia ulangi kata-kata itu sebelum tidur dan sebelum bekerja pada pagi hari.
Kedua, si babi Napoleon memelihara 9 ekor anjing yang bentuknya lebih menyerupai srigala. Saat ia melawan babi Snowball sebagai lawan politiknya, ia menggunakan anjing-anjing itu untuk mengancam dan mengusir babi yang bijak, si Snowball di depan semua penghuni peternakan. Secara tidak langsung itu juga merupakan ancaman bagi binatang yang lain, karena anjing-anjing peliharaan Napoleon selalu terlihat ganas setiap saat dan bisa mengoyak siapapun.

Sayangnya, di akhir cerita meskipun pengondisian tingkah laku para binatang berjalan mulus namun sifat Napoleon semakin bengis, licik dan tidak adil. Malah parahnya, babi Napoleon jadi lebih menyerupai manusia. Ia mulai melanggar apa yang tertulis di ajaran binatangisme dan puncaknya ia berjalan di atas dua kaki, bukan lagi diatas empat kaki. Sehingga semboyan pun diubah menjadi 'EMPAT KAKI BAIK, DUA KAKI LEBIH BAIK'.

Cerita selengkapnya bisa kita baca di novel apik karya George Orwell yang sudah diterjemahkan oleh Mahbub Djuanaedi berjudul 'BINATANGISME'. Sebenarnya, sebagai pembaca, saya rasa kesan yang sangat kuat ada pada akhir novel ini. Begini kutipannya, 'para binatang yang berada diluar dan mengintai dan jendela tercenung. Mereka meneliti seksama wajah-wajah yang berada di dalam gedung; dari wajah manusia, kemudian ke wajah babi, kemudian ke wajah manusia lagi, lalu beralih lagi ke babi. Kini rasanya sudah mustahil membedakan mana yang manusia dan mana yang babi! Babi dan manusia sama saja'.

Opini ini ditulis oleh Ani Nur Yanti, Bendahara Umum KOPRI Cabang Kabupaten Bandung yang juga alumni Psikologi.

Komentar