JASMERAH Wahai Kader PMII !

Jas Merah. Sumber : Google


Saya ucapkan selamat terlebih dahulu kepada wadah yang senantiasa menaungi mereka, orang-orang yang memiliki semangat untuk terus mengabdi kepada Agama, Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang sekarang menginjak usia ke-57 tahun, semoga dengan bertambahnya usia, bertamah juga semangat untuk terus menjadi organisasi mahasiswa yang mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila, aamiin.
Tulisan ini dibuat dengan maksud, semoga menjadi stimulus untuk para kader PMII supaya mereka bisa memaknai kembali apa yang harus mereka lakukan bersama PMII.
Pentingnya setiap kader Memahami Kembali Sejarah PMII
Bapak proklamator bangsa Indonesia, pernah berkata “jasmerah!” Jangan sampai melupakan sejarah. Saya beranggapan bahwasejarah itu sangatlah penting untuk menjadi sebuah tolok ukur seorang anak adam saat menjalani kehidupannya sehari-hari, dalam konteks ini adalah kader PMII. Sedikit mengulas, bahwa Ide dasar berdirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bermula dari adanya hasrat kuat para mahasiswa Nahdliyin untuk membentuk suatu wadah (organisasi) mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja). Maka ketika ada kader PMII yang keluar dari asas ideologinya, itu berarti ia harus memahami kembali sejarah PMII tersebut. Keuntungan kita ketika mempelajari dan memahami sejarah PMII lebih mendalam, maka salah satunya kita akan bisa bertindak sesuai dengan apa yang tertera dalam Nilai Dasar Pergerakan (PMII). Namun sungguh prihatin jika mendengar ada kader PMII yang tidak tahu sama sekali perihal sejarah PMII. Bagaimana ia bisa menjadi seorang kader yang berintegritas,jikalau sejarah organisasinya saja ia lupa atau bahkan tidak tahu? Pertanyaan ini bernada pesimis padahal jika kita kita sikapi dengan kondisi jiwa yang optimis, maka kita akan bersemangat, memahami kembali sejarah dan nilai dasar pergerakan PMII. Saya menulis esai ini, bukan sembarangan nyarios[1], tapi ini adalah dampak dari proses autentikasi dari pertanyaan mendasar yang sering saya lontarkan kepada diri saya yaitu “Bagaimana supaya saya bisa selalu dan lebih memaknai pergerakan intelektual saya di PMII?” Dan akhirnya saya sendiri yang menemukan cara tersebut, logisnya begini, ketika seorang kader PMII memahami betul sejarah organisasinya, maka ia akan sadar bahwa dirinya sedang berada dalam wadah pergerakan intelektual, ketika ia sadar, maka saya yakini dirinya mampu memaknai kembali bahwa PMII sebagai gerakan intelektual, namun jika seorang kader acuh dan tidak paham dengan sejarah PMII, pemaknaan kembali tersebut akan nihil.
Sekian dari saya, semoga bermanfaat.
Salam pergerakan, lawan-lawan- lawan !



Kader PMII-Rayon Ushuluddin, Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Cabang Kab. Bandung

Komentar