Membumikan Kembali Gerakan PMII

Tujuan PMII. Sumber: Google


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia hadir sebagai wadah organisasi mahasiswa dari kalangan pesantren dan islam tradisional. Berdiri sejak 57 tahun yang lalu, PMII sudah tak lagi muda. Menginjak usia yang usai berkepala lima, ini membuktikan PMII konsisten dapat terus ber-istiqamah sebagai wadah generasi mahasiswa islam dari masa ke masa. Corak dan sikap PMII sudah di kenal dalam dinamika pergolakan dunia mahasiswa baik itu tingkat kampus, lokal maupun juga nasional.
Setiap tahun akan selalu ada perayaan dan peringatan dari sebuah hal yang dilahirkan. Tidak terkecuali dengan satu organisasi yang  sudah berkepala lima ini. Sebelum perayaan memang baiknya ada sebuah telaah diri. Melihat apa yang usai dikembangkan, apa yang masih berjalan di tempat dan juga apa yang belum bisa digapai. Tidak mesti menunggu intruksi dari pengurus besar, hal ini bisa dimulai dari tingkat yang paling sederhana dalam kepengurusan PMII. Dari tingkat rayon atau barangkali komisariat yang mewakili karakter dan corak kampus.
Pada satu tahun ke belakang ada ragam dinamika yang bergejolak di tingkat mahasiswa dan nasional. Dari mulai paling dekat, naik panggungnya Islam fundamentalis, dikotomi pendukung Pilkada DKI, konflik agraria dan barangkali yang paling jauh, isu  PMII yang akan kembali dalam dekapan NU. Dari hal yang dekat, masih teringat dan ada sisa-sisa yang bisa dipelajari untuk berbenah diri. Dimana PMII tidak hadir memberi peranan dan dukungan ataupun penyelesaian.
Hari ini PMII sebagai wadah mahasiswa berorganisasi hanya menampilkan satu wajah yang begitu klise; politik. Sementara dalam dinamika yang begitu serius dan dibutuhkan, PMII justru absen dan hilang dari lapangan. Kita bisa melihat dari dinamika nasional yang terdekat. Dimana kita bisa menemukan PMII saat naik panggungnya islam fundamentalis? Adakah kibaran bendera perisai bebintang lima di depan istana bersama warga kendeng? Dapatkah kita melihat sikap PMII untuk turut andil ambil bagian satu tahun ke belakang?
PMII haikikatnya memiliki wajah yang beragam. Tapi belakangan justru PMII hanya puas berada di sekeliling lingkaran mahasiswa. Dari sekian cabang, dari sekian ribu kader dan anggota,PMII lebih senang bermain di tingkat kampus saja. Membuat dan melerai konflik antar mahasiswa dan masih saja berkutat dalam wajah perebutan politik tingkat kampus. Jadi memang benar kata banyak orang, organisasi gerakan mahasiswa hanyalah batu loncatan sebelum maju di dalam partai politik. PMII seolah memberi ketegasan yang seharusnya ditolak sejak dalam pikiran.
PMII kehilangan gerakannya dalam membaca realitas sosial di luar kampus. Atau bahkan lupa bagaimana memberdayakan anggotanya . Barangkali pemahaman ini tidak mewakili untuk semua cabang PMII di Indonesia. PMII di Cabang Ciputat khususnya di Komisariat Fakultas Adab dan Humaniora, hanyalah serupa bingkai tanpa foto. Tidak ada peranan masif untuk memberdayakan kader dan anggota, malah justru hanya merangkul kegiatan yang memiliki unsur Profit-Oriented.
Ada sebuah degradasi pergerakan dalam prinsip berorganisasi PMII. Dari lemahnya merespon dinamika dan realitas sosial dalam skala nasional pun demikian dari bagaimana PMII mengintegrasikan pergerakan dan juga keilmuan. Sebelum meluas hingga menggerus prinsip berakidah, sebelum PMII menginjak usia angka lima puluh tujuh, barangkali PMII perlu telaah dan berbenah diri untuk kembali merangkul apa yang telah ditinggal, mengingat apa yang telah dilupa dan merawat apa yang telah sirna.
Membangun Kualitas bukan Kuantitas
Sebagai organisasi berbasis gerakan, akan selalu ada regenerasi utnuk melanjutkan tongkat estafet oragnisasi. Menggelar lapak untuk mengundang mahasiswa baru. Dan memberi pendidikan organisasi. Adakalanya bahkan saling berlomba menghimpun anggota dengan organisasi tetangga. Alih-alih ada pemberdayaan anggota, organisasi gerakan – begitu juga PMII – hanya mengakomodasi untuk kontestasi politik tingkat kampus belaka. Yang dibangun bukan lagi kualitas melainkan kuantitas seadanya.
Di usia yang tak lagi muda PMII seharusnya menegaskan sikap untuk melawan dominasi tersebut. Organisasi tidak semestinya melulu bicara jumlah anggota, tapi justru lebih penting dari itu, seberapa besar peran anggota organisasi mampu terlibat dalam setiap realitas sosial dan membangun perkembangan intelektual.
Kita sebagai anggota dan kader muda PMII yang masih memiliki kesempatan untuk merawat langkah baru. Tidak selamanya harus mengekor dominasi senior. Kita perlu mandiri untuk menampilkan wajah PMII yang lain, tidak hanya dalam hegemoni politik. Membangun dari bawah dan merangkul yang di atas untuk membentuk kualitas anggota dan kader muda selanjutnya. Dengan menghidupkan kembali forum diskusi, membumikan kembali mahasiswa untuk tidak lupa pada sesama dan merawat budaya islam ramah untuk semesta.



Integrasi Pergerakan dan Keilmuan
Dalam realitas terdekat, PMII belakangan ini justru absen untuk bersikap. Ruang keterlibatan PMII diisi oleh organisasi islam fundamentalis sebagai sesama organisasi mahasiswa islam. PMII malah terkubur oleh organisasi baru model Gempa Pembebasan yang mengusung Islam fundamental. Hal ini mengakibatkan Islam indonesia seolah mengekor budaya islam arab. Padahal sejatinya PMII mampu menampilkan islam yang ramah dan toleran terhdapa perbedaan dan keragaman.
Bukan karena organisasi mahasiswa islam fundamelis ini sedang naik daun. Bukan. Kita terlalu sering mencari alasan yang menghindari kesalahan dari diri sendiri. Justru ada yang salah dengan PMII sendiri. PMII yang kian hari kian lemah merawat khazanah islam pergerakan yang santun. PMII sendiri yang tergerus perubahan zaman dan lapuk dari kontestasi baik itu gerakan dan juga keilmuan.
Adalah Integrasi Pergerakan dan Keilmuan yang perlu didekap oleh PMII. Keilmuan sebagai pondasi dasar membangun organisasi dan Pergerakan menjadi pola aplikatif sikap PMII membaca realitas sosial. Sudah tak semestinya PMII terpaku mencari anggota, melainkan sebaliknya, PMII perlu membangun karakter dan corak organisasi yang benar-benar bisa menjadi wadah mahasiswa. Tentu saja hal ini dicapai dengan bagimana PMII mampu mengembangkan dan menentukan arah dalam berorganisasi. Bila semata untuk mencari anggota apalah bedanya PMII dengan partai politik yang mencari masa saat musim pemilu atau pilkada?
PMII sejatinya telah memiliki manhaj dan orientasi organisasi yang baik. Tapi anggota seringkali mengabaikan hal ini dan justru mencari zona nyaman duduk di pangkuan kontestasi poilitik. Hal yang mulai hilang adalah bagaimana PMII mengembangkan potensi keilmuan. Dimana hal ini akan memiliki peran penting menjadi landasan dasar untuk memulai basis gerakan. Atau kerapkali ada dikotomi pola arah yang saling berlawanan. Saat keilmuan memunggungi gerakan dan sebaliknya. Disinilah pentingnya integrasi antara Keilmuan dan gerakan untuk berjalan selaras dan berdampingan membangun PMII yang kokoh secara inteletual dan masif dalam pergerakan.
Meneladani Mahbub Djunaidi
Tidak ada tokoh yang begitu dikenal dari mulai PMII berdiri selain Mahbub Djunaidi. Meski Mahbub bukan bagian dari orang yang menidrikan organisasi ini, nyatanya Mahbub yang membuat nama PMII naik panggung dalam membaca realitas sosial pada masanya. Barangkali kita bisa berkaca pada Mahbub, bagaimana PMII seharusnya dikenal bukan dari tokoh tapi memang dari karakter dan corak organisasinya sendiri.
Mahbub bukan tokoh politik. Ia lebih dikenal sebagai penulis esai dan budayawan.Tapi meski demikian, ia tidak pernah absen memberikan sikap untuk merespon keadaan sosial-politik pada masanya. Dalam kutipan film dokumter Omah Aksoro tentang Mahbub Djunaidi, Mahbub membantah bahwa Indonesia adalah negeri agraris, melainkan menurutnya, Indonesia adalah negeri maritim. Dan Bung Karno juga menyebut Mahbub sebagai sosok yang sopan tetapi tegas dan lincah.
Setelah tiga tahun Mahbub wafat, Soeharto lengser. Dan sejak itu pula ide-ide mahbub tentang demokrasi diterapkan untuk memulai pemerintahan Indenosia selanjutnya. Pembatasan masa jabatan presiden, sistem multi partai, pemilihan legislatif sesuai suara terbanyak dan peneggakan HAM terlaksana. Meski memang masih ada sisa luka sejarah yang tak kunjung diselesaikan pemerintah.
Dari sini kita perlu meneledani Mahbub untuk membangun PMII yang lebih memiliki ragam gerakan dengan basis intelektual yang kuat. Bahwa PMII dibentuk tidak hanya sebagai wadah mahasiswa untuk berpolitik, tetapi juga untuk mengembangkan intelektual dan menentukan sikap berpihak kepada yang lemah. Mahbub menjadi tauldan untuk membumikan PMII dari kolong langit politik.


Ali Nur Alizen
Kader PMII Komisariat Adab dan Humaniora Cabang Ciputat

Komentar