PMII, PIONIR MODERASI ISLAM INDONESIA

Pengajaran Islam di zaman terdahulu. Sumber : Google


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sebagian besar anggotanya merupakan warga Nahdliyin, mempunyai sumbangsih yang besar bagi negeri ini. Selain telah melahirkan ribuan pemimpin dan pemikir yang turut mewarnai perjalanan negeri ini, PMII juga menjadi pionir Islam moderat, terbuka, dan toleran di Indonesia.
Sejak pertama kali berdirinya, 17 April 1960, PMII ikut berperan dalam sejarah kehidupan politik, sosial, budaya dan pendidikan di Indonesia. Sebagai komunitas mahasiswa, PMII menjadi bagian dari simpul-simpul gerakan mahasiswa yang mampu memberikan andil, baik pemikiran maupun gerakan dalam pembangunan nasional.
Dalam aspek historis misalnya, PMII lahir dan terbentuk hampir bersamaan dengan kemunculan organisasi-organisasi mahasiswa dan pemuda lain. Kehadirannya tak lain sebagai respon terhadap berbagai persoalan sosial politik, budaya dan hukum yang berkembang saat itu. Sebagai komunitas para intelektual muda Nahdliyin, PMII menjadi simpul dan sentral kekuatan NU yang mampu memecahkan persoalan-persoalan sosial politik dengan membaca dinamika dan kontradiksi sosial politik yang terjadi saat itu.
Di awal terbentuknya, PMII berhasil memainkan peran yang sangat penting di kalangan mahasiswa. PMII mulai menunjukkan gerakan-gerakan politik maupun sosial yang sangat cepat dan berpengaruh. Hal ini terbukti di usianya yang baru beranjak satu tahun, PMII sudah menjadi anggota forum pemuda sedunia di Moskow (Contituente Metting for the Youth Forum). Pada tahun-tahun selanjutnya PMII memimpin Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), berpartisipasi dalam pembentukan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), bergabung dengan kelompok Cipayung dan berbagai gerakan-gerakan mahasiswa berpengaruh lainnya.
Pada wilayah pengembangan intelektual, PMII sebagai ormas mahasiswa yang berbasis kultural pesantren mampu membangun dan mewujudkan perangkat basis intelektual yang kuat. Para kader PMII mencurahkan perhatian keilmuannya pada tema-tema pokok sekitar liberasi, civil society, pluralisme dan literatur-literatur epistemologi filasafat modern yang diselenggarakan dalam kelompok diskusi dan forum kajian PMII.
Di bidang keislaman, PMII tidak menjadikan pemikiran tokoh-tokohfundamentalisme-radikalisme keagamaan sebagai acuan dalam pemikirannya. Namun, PMII lebih memberikan perhatiannya terhadap pemikiran tokoh-tokoh moderatdan liberasi pembebasan seperti Muhammad Arkoun, al-Jabiri, Muhammad Thoha, dan Samir Amin sebagai acuan disukusi keislaman dengan tidak meninggalkan tradisi keilmuan pesantren yang menekankan aspek fikih dan tasawwuf.
Begitu juga dalam kebangsaan. PMII senantiasa berkomitmen untuk menjadi komunitas yang nasionalis. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, PMII menjadi elemen penting dalam mengemban tanggung jawab berbangsa dan bernegara. Kecintaannya terhadap negara Indonesia membuat PMII tak ragu untuk menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi, dan bukan Islam. Sehingga PMII tidak pernah memakasakan panji dan simbol keislaman pada wilayah kebangsaan dan struktur kekuasaan negara.
Pada selanjutnya, kader PMII menjadi sumber pengkaderan utama dalamregenerasi Nahdlatul Ulama (NU). Sebagian besar para alumni PMIIlah yang mengisi lembaga-lembaga kepemimpinan formal NU seperti Gerakan Pemuda Ansor, LKKNU, Fatayat, Muslimat, Lakpesdam NU dan lembaga-lembaga banom NU lainnya. Hal ini terjadi karena secara sosiologis, para kader PMII merupakan masyarakat pedesaan yang memiliki tradisi keagamaan di mana NU memainkan peran yang sangat penting di dalamnya. Di samping itu, para kader PMII mayoritas merupakan alumni pesantren, yang mana merupakan tulang punggung NU dalam pengkaderannya.
Pionir moderasi Islam Indonesia
            Dari kenyataan ini, maka tidak bisa dimungkiri, bahwa jasa terbesar PMII kepada negeri ini adalah memperkokoh wawasan dan solidaritas kebangsaan, serta memperkuat moderasi Islam. Hal ini karena setiap kader PMII, sejak awal dikenalkan dengan paradigma Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagai modal dasar untuk mengukuhkan pandangan Islam moderat, terbuka, dan toleran.
Kader PMII tidak mengalami bipolaritas antara keindonesiaan dan keislaman. Kedua identitas tersebut bisa melebur dan saling menyempurnakan karena dalam paradigma PMII, NKRI adalah harga mati. PMII paham betul, bahwa menjadi warga Negara Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Sementara menjadi Muslim merupakan sebuah pergulatan relijius yang sangat kental dengan entitas kultural, khususnya di lingkungan pesantren. Karena sebagian besar kader PMII merupakan warga Nahdliyin, maka orang-orang sudah hampir pasti mengenal kader PMII sebagai sebagai kader Nahdlatul Ulama.
Kader-kader PMII pada umumnya adalah mereka yang mempunyai latarbelakang dari kalangan pesantren, khususnya Nahdlatul Ulama. Mereka tumbuh sebagai aktivis yang menginternalisasikan antara keindonesiaan dan keislaman dalam nafas pergerakan yang biasanya identik dengan membela hak-hak kaum tertindas.PMII memberikan sumbangsih yang sangat besar agar kaum muda menjadi nasionalis yang relijius dan berprinsip moderat (tawasut), netral (tawazun), seimbang (ta’adul) dan toleran(tasamuh).
Dengan keempat prinsip inilah PMII menjadi organisasi yang terbuka, toleran dan moderat. Di tengah maraknya ideologi fundamentalisme dan radikalisme agama yang menyasar kalangan pemuda dan kaum intelektual, PMII hadir sebagai ormas mahasiswa moderat, toleran dan terbuka terhadap keberagaman di negeri ini. Komitmen keislaman dan keindonesiaan PMII merupakan perwujudan kesadaran beragama dan berbangsa. Atas dasar itu PMII berkomitmen dengan segala tekad dan kemampuannya untuk mempertahankan bangsa dan negara dari infiltrasi paham-paham kaum radikal maupun fundamental.
Dari semua itu, PMII hadir sebagai gerakan mahasiswa idealis yang tidak didirikan hanya untuk bertahan selama sepuluh atau dua puluh tahun semata, tetapi PMII didirikan untuk melakukan perubahan tata struktur dan sistem yang buruk, mempertahankan tradisi lokal budaya masyarakat Indonesia yang baik dan mengambil langkah yang lebih baik dari berbagai kemajuan di berbagai sektor yang berkembang mutakhir.
Dengan jumlah kader yang sangat besar, yakni 230 Cabang dan 24 Pengurus Kordinator Cabang (PKC) di seluruh Indonesia. Belum lagi jumlah pengurus wilayah, komisariat dan rayon yang tentu saja banyak sekali jumlahnya, PMII akan tetap setia mewarnai sejarah panjang bangsa Indonesia. PMII akan tetap menjadi gerakan pemuda Nahdliyin yang mengemban misi intelektual dan bertanggung jawab mengemban komitmen keislaman dan keindonesiaan demi meningkatkan harkat dan martabat umat manusia dan membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
Di usianya yang ke-57 ini PMII akan selalu hadir menjadi pionir Islam moderat yang selalu siap menangkal berbagai gerakan radikal-fundamental yang menjadi ancaman bagi keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Selamat Harlah PMII yang ke-57

Ahmad Hifni
(Kader PMII Ciputat dan Penulis Buku “Menjadi Kader PMII”)


Komentar